Stephan Gultom

Tampilkan postingan dengan label imunisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imunisasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2012

Belajar Jalan - Stephan Gultom

Stephan sekarang sudah memasuki usia 13 bulan, semakin kelihatan bertumbuh dan sehat. Merangkak sudah dikuasai olehnya, sedangkan berjalan masih tertatih-tatih. 

Stephan dan Edgar - Memperlihatkan Bola kesayangan
 Walau belum lancar cara berjalannya, Stephan merasa sangat enerjik untuk bisa berjalan ataupun malah berlari. Dan yang lebih serunya adalah, Stephan senang sekali dengan bola, bila ada kesempatan, ia selalu bermain dengan bolanya, melempar, menendang dan mengejarnya.

Bermain bersama sang abang tercinta, Samuel, merupakan kesenangan tersendiri untuk Stephan. Setiap hari selalu saja ditunggu abangnya pulang dari sekolah dengan perasaan yang bersemangat, tentunya agar dapat bermain dan berteriak dengan sang abang.


Stephan selalu ceria dan bersemangat setiap saat. Bila ada Mama dan Papa sudah pulang kerja atau pada waktu libur, keceriaan Stephan seakan tidak pernah surut sepanjang hari. Ia akan tertidur karena kecapaian. Biasanya, bila setelah puas bermain sore hari, dan usai makan serta mandi, maka Stephan akan istirahat karena letih beraktifitas. 


Ada beberapa tips buat orang tua pada saat bayi kesayangannya belajar berjalan, :

Stephan dan Samuel - Jalan Sore
 

Latihan berjalan implikasinya sangat luas bagi perkembangan psikologis anak. Antara lain dalam sense of autonomy berikut kemandiriannya. Secara bertahap anak memahami, segala sesuatu yang diinginkannya haruslah diusahakan. Nah, agar latihannya berjalan baik dibutuhkan stimulus dan dukungan dari orangtua. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan kala anak sedang belajar jalan seperti dijelaskan dr. Rini Sekartini, Sp.A., dari bagian Tumbuh Kembang Anak, Departemen Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

1. CIPTAKAN LINGKUNGAN AMAN


Kala bayi mulai tertatih-tatih belajar jalan biasanya selain merasa senang para orangtua pun mulai "senam jantung". Bagaimana tidak? Kini si bayi mulai ingin mengenali dunianya yang lebih luas dengan "menjelajah" hingga ke setiap sudut rumah. Mungkin bila dijumlahkan setiap hari entah sudah berapa belas meter jarak yang ditempuhnya.

Keterampilan barunya ini membuat bayi bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Meski sebatas di dalam rumah, "penjelajahan" ini mengundang situasi yang rawan kecelakaan. Contohnya, bagaimana bila tiba-tiba dengan langkahnya yang masih limbung si kecil nyelonong masuk ke kamar mandi yang lantainya licin, atau tiba-tiba menabrak guci besar di pojok ruang yang dapat mencederai dirinya.
 
Stephan Halomoan Gultom
Bila terjadi kecelakaan akibat eksplorasinya tentu saja bayi tidak bisa disalahkan. Ia belum tahu benda apa saja dan mana tempat yang berbahaya ataupun tidak.

Menjadi tugas orangtua untuk meminimalkan segala risiko dengan tidak menempatkan barang-barang yang mengundang bahaya di jalur yang akan dilalui bayi. Selain itu, pastikan pula keamanan daerah "steril" bagi bayi, terutama dapur dan kamar mandi karena di kedua tempat ini terdapat banyak hal yang dapat menyebabkan kecelakaan pada bayi.

Selanjutnya, area menuju lantai atas, dapur, dan ke kamar mandi, sebaiknya dilengkapi dengan pintu pengaman berupa pagar pembatas. Kabel listrik yang tak tertata rapi juga sering menjadi biang keladi tersandungnya si kecil yang sedang "asyik" berjalan. Belum lagi kemungkinan sengatan listrik bila kabelnya sudah terkelupas. Oleh sebab itu, aturlah jalinan kabel dengan baik sehingga tak centang perenang.

Biasanya bayi yang sudah mampu berdiri dan berjalan tertarik pada apa saja yang ada di atas meja. Tak heran kalau dalam sekejap kemudian ia akan menarik benda apa saja yang menarik perhatiannya tadi. Guna meminimalkan risiko bahaya, untuk sementara singkirkan taplak meja. Kalaupun ingin menggunakan taplak meja, pilihlah yang ukurannya lebih kecil dari daun meja sehingga tak sampai menjumbai di sisi meja.

Perabot, terutama meja yang bersudut tajam, sebaiknya juga disingkirkan untuk sementara waktu atau akali dengan memasang pengaman sudut. Soalnya, bayi yang sedang belajar berjalan sangat berisiko terbentur sudut meja yang tajam.

Patut diingat, menciptakan lingkungan yang aman bukanlah dengan membatasi ruang eksplorasi bayi. Yang diperlukan bayi adalah pengawasan orangtua sekaligus area yang dapat membuatnya leluasa berjalan-jalan ke sana dan kemari.

2. PILIH SEPATU YANG TEPAT

Sepatu berfungsi melindungi kaki bayi dari partikel dan benda yang bisa mencederainya. Di luar lingkungan rumah, sebaiknya pakaikan sepatu yang dapat menunjang kemampuan bayi berjalan.

Pilih sepatu bersol datar dan lembut untuk memudahkan anak berjalan sekaligus tetap mendapat cukup rangsangan dari bawah. Hindari sepatu dengan pengganjal di bagian lekukan kaki karena akan mengganggu pertumbuhan tulang belulangnya. Hindari juga ujung sepatu yang runcing/menyempit yang membuat ruang gerak jari-jemarinya terhambat.

Pastikan sepatu bayi berukuran pas, tidak sempit dan tidak terlalu longgar. Patokannya, lebihkan sedikit (kira-kira satu ruas ibu jari orang dewasa) pada bagian ujung sepatu. Pilih model dengan tali/kancing/perekat yang dapat mengatur kekencangan sepatu secara tepat. Kaus kaki yang akan digunakan juga tidak dianjurkan terlalu ketat karena dapat mengganggu peredaran darah. Pilih bahan katun agar mudah menyerap keringat sekaligus membantu menjaga sirkulasi udara dalam sepatu.

Saat berjalan-jalan di rumah, bayi tak perlu diberi alas kaki. Tanpa sepatu, kaki bayi akan menerima rangsangan-rangsangan dari luar. Kakinya juga akan mendapat tekanan dari bawah sebagai latihan bagi otot-ototnya. Ini dapat mengasah kemampuan koordinasinya menjadi lebih bagus. Berkat tekanan-tekanan pada permukaan telapak kaki, pertumbuhan tulang kaki menjadi lebih baik. Selanjutnya, akan terbentuk kaki yang baik dengan otot-otot yang lebih kuat. Latihan bertelanjang kaki seperti ini sangat diperlukan di rumah mengingat pertumbuhan tulang akan terus berlanjut sampai anak berusia 17-18 tahun.

Untuk menjamin kesehatan dan kenyamanan kakinya, periksa ukuran sepatu secara berkala mengingat pertumbuhan kaki bayi amat cepat, terutama bila ditunjang gizi yang baik. Sepatu yang kekecilan pasti akan membuatnya tak nyaman. Sepatu kekecilan akan meninggalkan warna kemerahan di pinggir jari atau kaki bayi akibat tekanannya dan dapat menyebabkan iritasi.



3. TUMBUHKAN KEPERCAYAAN DIRI

Pada prinsipnya, selama sudah dipastikan tidak ada gangguan saraf atau kelainan otot, anak pasti bisa berjalan. Memang, sih, usia berjalan pada setiap anak bisa berbeda-beda, namun umumnya rentang waktu yang normal adalah usia 11-18 bulan.

Kecemasan umumnya muncul jika setelah berusia 1 tahun, si kecil belum juga bisa berjalan. Atau biasanya sudah bisa berjalan sebentar, tapi setelah itu mogok. Untuk memastikan ada tidaknya gangguan, tentu harus diperiksakan ke dokter. Bila tak ada gangguan, boleh jadi ia butuh rangsangan agar dapat berjalan tepat pada waktunya.

Anak yang mogok belajar jalan mungkin terlena oleh kemanjaan dari orangtua atau pengasuhnya. Contohnya, kelewat sering digendong sehingga anak tak mendapat stimulasi untuk aktif bergerak. Kemanjaan seperti ini memang bisa menghambat perkembangan kemampuan berjalannya.

Sayangnya, sering kali orangtua tidak menyadari kemanjaan yang mereka limpahkan. Contohnya, lantaran kelewat sayang, orangtua khawatir melihat anaknya limbung. Belum sempat anak melangkah, orangtua sudah langsung mengulurkan bantuan. Kalau semua kebutuhan dan kemudahan sudah ada di depan mata, jangan salahkan kalau si kecil jadi enggan belajar berjalan.

Keengganan latihan berjalan bisa juga lantaran kurangnya rasa percaya diri. Boleh jadi saat pertama kali belajar jalan, ia terjatuh cukup keras. Baik anak maupun orangtua biasanya jadi jera mencoba dan mencoba lagi. Padahal ketakutan berlebih seperti ini harus dikikis. Secara perlahan orangtua mesti meyakinkan anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tunjukkan dengan bukti konkret, semisal dengan terus mendampinginya berlatih dan menyediakan lingkungan yang aman.

Agar anak mau berjalan lagi, dibutuhkan stimulus yang dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya. Pancing semangat anak dengan sikap gembira tanpa harus memaksa. Gunakan mainan yang menarik agar anak mau mendatanginya. Letakkan agak ke atas sehingga ia perlu berdiri untuk menjangkaunya. Dengan begitu, sedikit demi sedikit, anak tergerak untuk berani mencoba berjalan sendiri, tanpa ditatih atau berpegangan. Kalaupun sampai terjatuh, jangan tunjukkan sikap panik di hadapannya. Perhatikan apakah ia perlu ditolong saat itu juga atau bisa dibiarkan bangkit sendiri.

Sikap panik orangtua/pengasuh hanya akan membuat rasa percaya dirinya luntur.

4. PIJAT PERKUAT OTOT KAKI

Selama belajar berjalan, anak mengandalkan otot-otot kakinya untuk menjaga keseimbangan. Dengan rekomendasi dokter anak, orangtua dapat melakukan pijat bayi yang bertujuan menguatkan otot-otot kakinya. Misalnya, dengan cara menelentangkan bayi kemudian minta ia memegang telapak kakinya sambil sedikit didorong. Secara refleks anak akan melakukan gerakan seperti menendang. Latihan yang intens dan tepat terbukti mampu menguatkan otot kakinya.

Tanyakan pada dokter, teknik-teknik pijatan apa yang dapat menguatkan otot kaki. Membawa anak ke tukang pijat tradisional boleh saja asalkan dilakukan dengan hati-hati. Akan lebih baik jika Anda berbekal rekomendasi dokter lalu membawa si bayi ke fisioterapis. Pelajari tekniknya dengan benar. Yang pasti, pijatan yang dilakukan fisioterapis biasanya berlandaskan ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan.

5. PERHATIKAN BERAT TUBUH

Sering juga terjadi anak malas belajar jalan akibat kegemukan. Bagi bayi dengan berat badan berlebih, menjaga keseimbangan tubuh jelas lebih sulit. Upayakan agar asupan makanannya seimbang, tidak berlebih dan tidak kurang. Selain itu, fisioterapis dapat membantu bayi dengan program yang tepat. Misalnya dengan teknik mendorong bola besar yang biasa digunakan untuk latihan motorik.










-ShG-
 

Minggu, 22 Mei 2011

Imunisasi Anak

Difteri
Difteri disebabkan oleh bakteri yang ditemukan di mulut, tenggorokan dan hidung. Difteri menyebabkan selaput tumbuh di sekitar bagian dalam tenggorokan. Selaput tersebut dapat menyebabkan kesusahan menelan, bernapas, dan bahkan bisa mengakibatkan mati lemas. Bakteri menghasilkan racun yang dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan berbagai komplikasi berat seperti kelumpuhan dan gagal  jantung. Sekitar 10 persen penderita difteri akan meninggal akibat penyakit ini. 
Difteri dapat ditularkan melalui batuk dan bersin orang yang terkena penyakit ini. 

Tetanus
Tetanus disebabkan oleh bakteri yang berada di tanah, debu, dan kotoran hewan. Bakteri ini dapat memasuki tubuh melalui luka sekecil tusukan jarum. Tetanus tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain. Tetanus adalah penyakit yang menyerang sistem saraf dan seringkali menyebabkan kematian. Tetanus menyebabkan kekejangan otot yang mula-mula terasa pada otot leher dan rahang. Tetanus dapat mengakibatkan kesusahan bernapas, kejang-kejang yang terasa sakit, dan detak jantung yang tidak normal. Karena imunisasi yang efektif, penyakit tetanus kini jarang ditemukan di Australia, namun penyakit ini masih terjadi pada orang dewasa yang belum diimunisasi terhadap penyakit ini atau belum pernah disuntik ulang [disuntik vaksin dosis booster].
 
Batuk Rejan
Batuk rejan adalah penyakit yang menyerang saluran udara dan pernapasan dan sangat mudah menular. Penyakit ini menyebabkan serangan batuk parah yang berkepanjangan. Di antara serangan batuk ini, anak akan megap-megap untuk bernapas. Serangan batuk seringkali diikuti oleh muntah-muntah dan serangan batuk dapat berlangsung sampai berbulan-bulan.
Dampak batuk rejan paling berat bagi bayi berusia 12 bulan ke bawah dan seringkali memerlukan rawat inap di rumah sakit. Batuk rejan dapat mengakibatkan komplikasi seperti pendarahan, kejang–kejang, radang paru–paru, koma, pembengkakan otak, kerusakan otak permanen, dan kerusakan paru–paru jangka panjang. Sekitar satu di antara 200 anak di bawah
usia enam bulan yang terkena batuk rejan akan meninggal. Batuk rejan dapat ditularkan melalui batuk dan bersin orang yang terkena penyakit ini.

Hepatitis B
Virus Hepatitis B mempengaruhi hati dan dapat menyebabkan:
  • Demam
  • Rasa mual dan diare
  • Keletihan
  • Air seni berwarna gelap dan kulit berwarna kuning
Virus Hepatitis B biasanya disebarkan melalui kontak dengan cairan tubuh (darah, air liur, air mani) penederita penyakit ini, atau dari ibu ke anak pada saat melahirkan. Kebanyakan anak kecil yang terkena virus Hepatitis B akan menjadi “pembawa virus”. Ini berarti mereka dapat memberikan penyakit tersebut pada orang lain walaupun mereka tidak menunjukan gejala apapun. Jika anak anda terkena Hepatitis B dan menjadi “pembawa virus”, mereka akan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terkena penyakit hati dan kanker nantinya dalam hidup.
 
Polio
Polio dapat menyebabkan gejala yang ringan atau penyakit yang sangat parah. Penyakit ini dapat menyerang sistem pencernaan dan sistem saraf. Polio menyebabkan demam, muntah-muntah, dan kekakuan otot dan dapat menyerang saraf-saraf, mengakibatkan kelumpuhan permanen. Penyakit ini dapat melumpuhkan otot pernapasan dan otot yang mendukung proses penelanan, menyebabkan kematian. Di antara dua sampai lima persen penderita polio akan meninggal akibat penyakit ini dan sekitar 50% pasien yang masih bertahan hidup menderita kelumpuhan seumur hidup. Polio dapat ditularkan jika tinja penderita mencemari makanan, air atau tangan.
 
Hib
Penyakit Hib adalah penyebab paling umum infeksi mematikan pada anak berusia di bawah lima tahun sebelum ditemukannya vaksinasi Hib rutin pada tahun 1993. Kasus infeksi Hib sebelum tersedianya vaksin paling sering terjadi pada anak berusia di bawah lima
tahun dan jarang terjadi setelah usia lima tahun. Meskipun kemiripan namanya, penyakit ini tidak ada hubungannya dengan infl uenza. Haemophilus infl uenzae adalah bakteri yang biasanya hidup di jalur pernapasan bagian atas. 
Penyakit Hib dapat menyebabkan:
  • Meningitis, infeksi pada selaput yang melindungi otak
  • Epiglottitis, bengkaknya tenggorokan yang dapat menghambat pernapasan
  • Septic arthritis, infeksi pada sendi
  • Cellulitis, infeksi pada jaringan di bawah kulit biasanya di muka
  • Radang paru-paru
Gejala tersebut dapat berkembang cepat dan jika dibiarkan tanpa perawatan, dapat cepat menyebabkan kematian.
 

Imunisasi Difteri, tetanus, batuk rejan, hepatitis B, polio dan Hib 
Difteri, tetanus, batuk rejan, polio hepatitis B, dan Hib dapat dicegah melalui sebuah kombinasi
vaksin yang aman dan efektif yang disebut Infanrix hexa®. Beberapa kali suntikan dibutuhkan sebelum mendapatkan perlindungan yang baik. Vaksin Infanrix hexa® mengandung sejumlah kecil toksin difteri dan tetanus yang telah dimodifi kasi sehingga tidak berbahaya. Vaksin ini juga mengandung bagian dari bakteri pertussis yang telah dimurnikan, bagian dari virus hepatitis B yang tidak aktif, tiga jenis virus polio yang tidak aktif, dan ‘gula’ Hib. Vaksin ini juga mengandung sejumlah kecil garam aluminium, sejumlah kecil antibiotik, pengawet dan mungkin juga mengandung protein dari ragi.
 
Daftar cek pra-imunisasi
Sebelum anak anda diimunisasi, beritahu dokter atau
perawat jika hal-hal berikut berlaku:
  • Anak anda merasa tidak enak badan pada hari imunisasi (suhu tubuh di atas 38.5˚C)
  • Pernah mengalami reaksi yang berat terhadap vaksin apapun
  • Pernah menderita alergi parah terhadap unsur vaksin apapun (misalnya, neomycin)
Kemungkinan efek samping imunisasi difteri, tetanus, batuk rejan, hepatitis B, polio dan Hib
Reaksi terhadap vaksin difteri, tetanus, batuk rejan, hepatitis B, polio dan Hib jauh lebih jarang terjadi dibandingkan komplikasi yang disebabkan penyakitpenyakit tersebut.
 
Efek samping umum
  • Mudah marah, menangis, gelisah dan umumnya tidak senang
  • Rasa kantuk dan lelah
  • Demam ringan
  • Kesakitan, kemerahan dan pembengkakan pada tempat bekas suntikan
  • Benjolan kecil sementara pada tempat bekas suntikan
Efek samping yang sangat jarang

  • Peristiwa Kejadian hypotonic-hyporesponsive (Hypotonic-hyporesponsive episode yangdisebut HHE). Balita mungkin menunjukkan tanda-tanda pucat, lemah dan tidak bereaksi apapun. Hal ini dapat terjadi sekitar satu sampai 48 jam setelah vaksinasi. Gejala ini dapat berlangsung selama beberapa menit sampai 36 jam. Pemeriksaan lebih lanjut pada anak yang mengalami HHE menunjukkan bahwa tidak ada dampak jangka panjang pada saraf atau efek samping lainnya.
  • Reaksi alergi berat :Jika reaksi ringan terjadi, reaksi tersebut dapat berlangsung selama sehari sampai dua hari. Efek samping tersebut bisa dikurangi dengan:
  • Minum cairan lebih banyak
  • Tidak memakai pakaian terlalu banyak
  • Mengompres tempat bekas suntikan dengan kain basah yang dingin
  • Memberikan anak anda paracetamol untuk mengurangi demamnya (perhatikan dosis yangdianjurkan untuk usia anak anda)
Jika reaksi sangat berat atau berkelanjutan, atau jika anda khawatir, hubungi dokter anda atau rumah sakit.

Selasa, 18 Januari 2011

Tumbuh Sehat Dengan ASI

Satu bulan sudah kini usiaku dan sekarang aku sudah mulai tumbuh besar (kata mama, aku seperti usia tiga bulan). Makanan pokok yang aku konsumsi sampai saat ini adalah susu ibu. Menurut mama, ia akan kesulitan untuk menyusui aku saat masa cuti kantornya habis, karena kebutuhan menyusui aku yang banyak.

Mama menyusui aku menurut dokter adalah dengan memberi susu sepanjang aku mau. Sementara, dilain sisi ada pendapat yang mengatakan bahwa aku harus dibuat teratur untuk menyusui. Perbedaan cara pemberian susu ini juga memiliki implikasi yang berbeda, pendapat pertama yang mengatakan aku harus menyusui saat aku mau, membuat aku jadi semakin ketergantungan dengan puting susu mama. Bahkan saat tidurpun aku harus mendapatkan puting mama, sebagai peneman tidur. Tambahan, aku dianggap sudah manja, lantaran aku harus selalu dipangku agar aku tenang.

Memang banyak faktor yang menyebabkan bayi selalu menangis atau merasa tidak nyaman, lapar,pipis, sakit dan lain sebagainya. Aku, menangis sepanjang aku suka, mengerang sepanjang aku suka, tertawa sepanjang aku suka dan bobo sepanjang aku suka, pokoknya asalkan aku bersama mama dan papa, aku suka.

Semakin tumbuh, semakin aku dikaitkan dengan abangku, Samuel Gultom, kata orang, aku mirip sekali dengannya. Mama bilang, aku lebih mirip mama,,papa bilang aku mirip papa...waahh,, aku jadi mirip seisi rumah rupanya.

Kembali ke soal menyusui, kekhawatiran mama tidak dapat menyusui aku saat ia bekerja cukup beralasan. Lokasi kerja mama jauh dari rumah, perjalanan yang efisien hanya menggunakan kereta api, jadi kemungkinan pergi pagi dan pulang malam sudah terbayang oleh mama. Bagaimana aku dimandikan pagi dan sore, bagaimana memberikan susu yang penuh gizi untuk pertumbuhan jadi "pikiran" mama.

Katanya, saat ini ada jasa mengantarkan susu ASI dari kantor lokasi mama ke rumah dengan biaya yang bersaing. Wahh ,,, info itu sangat menyenangkan mama. Hanya saja, bagaimana caranya memberi susu serta mengurus aku di rumah saat mama di kantor... pertanyaan yang sulit dijawab dengan sembarangan. Walaupun ada pengasuh tetapi tetap aku menjadi kekhawatiran mama mengenai hal ini....

Katanya, banyak sekali ibu muda yang memiliki profesi atau sebagai pekerja dapat melakukan pengurusan anak bayi dari kantor... wahhh.. hebat yah... Semuanya serba via telephon..hmm...begitulah zaman sekarang.. Semua serba ..........